Adang Kuswaya

Just another STAIN Staff Website site

  • Orientasi dari teks menuju realitas
    Adang Kuswaya
    Dosen STAIN Salatiga, pemerhati tafsir al-Qur’an
    Judul : Dira>sa>t Falsafiyyah
    Penulis : Hassan Hanafi
    Penerbit : Al-Anji>lu> al-Mis}riyyah, Kairo
    Cetakan : Pertama, tahun 1988
    Jumlah halaman : 602
    Abstrak
    Di beberapa tafsir al-Qur’an terdahulu sering ditemukan tautology karena tidak adanya perumusan masalah apakah dibutuhkan atau tidak suatu penafsiran. Padahal, al-Qur’an menyatakan bahwa kehadirannya di dunia didahului oleh problem dan pertanyaan yang diajukan oleh realitas.
    Tulisan ini merupakan Book Review dengan menggunakan analisis deskripsi terhadap karya tulis Hassan Hanafi “Qira>`ah al-nas}” yang terdapat dalam buku Dira>sa>t Falsafiyyah. Menurutnya, teks sebagaimana menulisnya, sama-sama merupakan tindakan ideologis. Setiap pembacaan merupakan keputusan dan rekonstruksi obyek bacaan dengan mengabaikan situasi awal di mana teks muncul dan teralienasi. Oleh karena itu, baik penulisan maupun pembacaan teks masing-masing merupakan “senjata ideologis”.
    Sebagai kegiatan produktif, suatu bacaan atas teks berfungsi untuk menemukan dimensi-dimensi baru dalam teks sebelumnya bahkan dalam makna awalnya yang sama sekali belum ditemukan. Hal ini dapat saja terjadi karena pemahaman manusia senantiasa diperkaya oleh akumulasi pengetahuan yang memperkenalkan berbagai temuan yang tidak pernah disadari sebelumnya. pemahaman manusia senantiasa dideterminasi oleh kesadarannya akan realitas sosial dan individual di mana ia hidup. Oleh karena itu, mendesak untuk dilakukan upaya reinterpretasi terhadap teks al-Qur’an dengan ditandai kehadiran sebuah pendekatan baru yang berorientasi pada pemecahan problem yang terjadi dalam realitas. Sebuah tawaran penafsiran yang menggeser orientasinya dari teks menuju realitas.

    Keywords: reinterpretasi, teks, konteks, dan realitas

    Pendahuluan
    Orientasi dan analisis teks dalam penafsiran al-Qur’an tradisional telah mendapat perhatian signifikan di kalangan para pemikir di dunia Islam kontemporer. Di antaranya Hassan Hanafi, Muslim berkebangsaan Mesir, menilai bahwa kehadiran wahyu adalah jawaban terhadap persoalan yang muncul dalam realitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, semestinya tafsir al-Qur’an tidak semata-mata sebagai penjelas dari ayat al-Qur’an tetapi juga harus dijadikan sebagai solusi suatu masalah yang dihadapi.
    Dalam penafsiran al-Qur’an tradisional tidak jarang terlihat pengulangan-pengulangan dan tidak diawali dengan perumusan masalah apakah dibutuhkan atau tidak suatu penafsiran. Padahal, al-Qur’an dalam banyak ayatnya menyatakan bahwa kehadirannya di dunia didahului oleh problem dan pertanyaan yang diajukan oleh realitas.
    Tulisan ini merupakan analisis terhadap karya tulis Hassan Hanafi “Qira>`ah al-nas}” yang terdapat dalam buku Dira>sa>t Falsafiyyah. Hanafi mencoba mengakomodir beberapa kegelisahan akademik yang dihadapi para pemikir dalam menyikapi beberapa penafsiran alquran yang telah berlangsung sampai saat ini. Mendesak untuk dilakukan upaya reinterpretasi terhadap teks al-Qur’an dengan ditandai kehadiran sebuah pendekatan baru yang berorientasi pada pemecahan problem yang terjadi dalam realitas. Sebuah tawaran penafsiran yang menggeser orientasinya dari teks menuju realitas.

    Sosok Intelektual Hassan Hanafi
    Nama lengkap Hassan Hanafi ialah Hassan Hanafi Hassanein. Ia dilahirkan tanggal 13 Februari 1935 di Kairo, tepatnya di lokasi sekitar tembok benteng Shalahudin, daerah yang tidak terlalu jauh dari perkampungan Al-Azhar, Mesir. Meskipun Hassan Hanafi sebagai seorang filosof dan teolog namun, ia tumbuh di keluarga musisi.
    Pendidikan Hassan Hanafi diawali pada tahun 1948 dengan menamatkan pendidikan tingkat dasar dan melanjutkan studinya di Sekolah Menengah “Khalil Agha” Kairo yang diselesaikannya selama empat tahun. Semasa di Sekolah Menengah, ia telah mengetahui pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ikhwan al Muslimin dan aktivitas-aktivitas sosialnya. Ia juga tertarik untuk mempelajari pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb tentang keadilan sosial dan Islam. Sejak itu ia berkonsentrasi untuk mendalami pemikiran agama, revolusi dan perubahan sosial.
    Pada tahun 1952 Hanafi melanjutkan studinya di Departemen Filsafat Universitas Kairo, dan ia menyelesaikannya selama empat tahun dengan gelar sarjana muda pada 1956. Di samping ia mendalami filsafat juga mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan teori-teori sosial.
    Hassan Hanafi meraih gelar sarjana muda filsafat di Universitas Kairo pada 1956. Selanjutnya pada tahun 1956 Hanafi memperoleh kesempatan studi strata yang lebih tinggi di Universitas Sorbonne Prancis. Di Prancis ini, Hanafi merasakan sangat berarti bagi perkembangan pemikirannya, dan di Prancislah ia berlatih berfikir secara metodologis, baik melalui kuliah-kuliah ataupun karya-karya orientalis.
    Terakhir belajar di Perancis pada tahun 1966, ia berhasil menyelesaikan program master dan doktornya di Universitas Sorbonne dengan mengajukan tesis Les Methodes d’Exegeses: Essai sur La Science des Fondamens de la Comprehension, ‘Ilm Ushul Fiqh. Gelar doktor juga diperolehnya dari Universitas Sorbonne Paris dengan disertasinya berjudul “L’Exegeses de la Phenomenologie, L’etat Actuel de la Methode Phenomenologie et son Application au Phenomeme Religiuex.” Sebuah karya yang merupakan upaya Hassan Hanafi untuk menghadapkan ilmu Ushûl Fiqh (Teori Hukum Islam) pada mazhab filsafat fenomenologi dari Edmund Husserl.
    Karir Hassan Hanafi dimulai dengan diangkatnya menjadi Lektor (1967), kemudian menjadi lektor kepala (1973) dan professor filsafat (1980) pada jurusan Filsafat Universitas Kairo. Kemudian sekembalinya dari Jepang pada tahun 1988 ia diserahi jabatan Ketua Jurusan Filsafat di Universitas Kairo.
    Selain itu, Hassan Hanafi aktif memberikan kuliah di negara lain, seperti di Prancis (1969), Belgia (1970), Temple University Philadelphia, AS (1971-1975), Universitas Kuwait (1979), Universitas Fez Maroko (1982-1984) dan menjadi guru besar tamu di Universitas Tokyo (1984-1985), di Persatuan Emirat Arab (1985), kemudian diangkat menjadi penasehat program pada Universitas PBB di Jepang (1985-1987).
    Aktivitas di dunia akademik ditunjang dengan aktivitas di organisasi masyarakat. Hassan Hanafi aktif sebagai sekretaris umum persatuan Masyarakat Filsafat Mesir. Ia menjadi anggota Ikatan Penulis Asia Afrika, anggota Gerakan Solidaritas Asia Afrika serta menjadi Wakil Presiden Persatuan Masyarakat Filsafat Arab. Pemikiran-pemikiran Hassan Hanafi tersebut di dunia Arab sampai ke Eropa.
    Pada tahun 1981 ia memprakarsai dan sekaligus sebagai redaktur penerbitan jurnal al Yasâr al Islâmî. Pemikirannya yang terkenal dengan al Yasâr al Islâmî sempat mendapatkan reaksi dari penguasa Mesir, sehingga pemerintahan Anwar Sadat memasukkannya ke penjara.
    Hassan Hanafi banyak menyerap pengetahuan Barat dan mengkonsentrasikan diri pada kajian pemikir Barat pra modern. Karena itu, meskipun ia menolak dan mengkritik Barat seperti disebut Kazuo Shimogaki, ide-ide liberalisme Barat, demokrasi, rasionalisme dan pencerahan telah mempengaruhinya sehingga Shimogaki mengkategorikan Hanafi sebagai seorang modernis liberal.
    Pembahasan
    Beberapa pengertian teks dan proses memahaminya dalam literatur Islam klasik terefleksi dalam istilah-istilah seperti qira’ah, tafsir, ta`wil, dan syarh yang agak spesifik. Menurut Hanafi, membaca teks pada dasarnya sinonim dengan proses memahaminya, sementara yang menjadi obyek pemahaman itu adalah teks.
    Menurut Sara Mills, seorang ahli bahasa dari Inggris, mengatakan bahwa teks adalah suatu hasil negosiasi antara penulis dan pembaca. Oleh karena itu, pembaca di sini tidaklah dianggap semata sebagai pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melakukan transaksi segaimana akan terlihat dalam teks.
    Membaca teks ini dapat disejajarkan dengan teori pengetahuan dalam filsafat skolastik yang ditandai dengan relasi subyek-objek. Jika membaca adalah subjek, maka objeknya adalah teks. Membaca berarti memahami dengan sendirinya juga berarti menafsirkan dan mentakwilkannya.
    Menurut Sara Mill bahwa sebuah berita harus dilihat bagaimana satu pihak, kelompok, orang gagasan atau peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana berita yang mempengaruhi pemaknaan ketika diterima oleh khalayak. Bahkan menurut Mills, bagaimana posisi dari berbagai aktor sosial, posisi gagasan , atau peristiwa itu ditempatkan dalam teks.
    Tafsir berada pada level kedua dalam proses pembacaan ketika pemahaman dengan persepsi langsung tidak dimungkinkan. Instrumen-instrumennya adalah logika bahasa, orientasi teks (taujih al nash) atau konteks sosial dan rûh al ‘ashr (semangat zaman). Jika penafsiran dengan logika bahasa menemui jalan buntu, sementara signifikansi teks, kebutuhan sosial dan spirit zaman semakin menguat, maka yang terjadi adalah proses ta’wil. Sementara syarh (komentar) mencakup ketiga hal sebelumnya yakni qirâ`ah atau pemahaman dengan persepsi langsung, penafsiran, dan ta`wil.
    Dalam kedudukannya sebagai bangunan pengetahuan yang komprehensif, syarh menurut Hassan Hanafi, mencakup hubungan antara proses membaca dan teks dalam relasi subjek-objek. Pembacaan suatu teks lebih lanjut dapat menjadi kegiatan yang bercorak pribadi terjadi ketika seseorang membaca teks orang lain yang berasal dari kebudayaan yang sama sebagai sebuah penghampiran tertentu terhadap tradisi mereka berdua dan dapat pula mencerminkan dialektika sosial. Pembacaan jenis ini lebih merupakan interpretasi dengan tujuan melakukan korelasi dan pembaharuan guna memenuhi atau menyesuaikan dengan semangat zaman. Sedangkan, jika pembacaan dilakukan seseorang pada orang lain dari peradaban yang berbeda, maka yang terjadi adalah peristiwa dialektika kebudayaan.
    Menurut Hassan Hanafi, pembacaan teks yang dilakukan oleh seseorang dalam dua bentuk di atas bukan sekedar sebagai tafsir, ta’wil dan syarh belaka terhadap objeknya. Melainkan, sebagai proses rekonstruksi makna teks menurut persepsi pembaca yang mencakup pembacaan, analisis, kritik, dan “rekonstruksi” untuk menyempurnakan struktur dan penyingkapan aturan-aturan teks.
    Pada sisi lain, pembacaan teks bukanlah seni, tapi ilmu praktis yang bersifat komulatif guna menyingkap struktur dasar sutu teks, baik yang berbentuk dalam rentang waktu yang panjang atau dalam periode yang singkat. Menurut Hassan Hanafi, hermeneutika dapat disebut ilmu yang menentukan hubungan antara subyek dengan obyeknya. Subyek adalah penafsiran dengan kegiatan penafsirannya, sementara obyek adalah teks.
    Meskipun terdapat pemilahan antara teks profan dengan teks sakral Hassan Hanafi menganggap bahwa semua teks diperlakukan sama sebagai konsekuensi leburnya pemilahan antara hermeneutika sacra dan hermeneutika profan dalam diskursus hermeneutika kontemporer. Hassan Hanafi menganggap keistimewaan al-Qur’an sebagai teks kategori dalam praktek keagamaan masyarakat dan bukan kategori dalam hermeneutika.
    Desakralisasi teks-teks suci, termasuk al-Qur’an tersebut menciptakan hubungan-hubungan simetris antara al-Qur’an, kesadaran, dan realitas, sebagai antitesis hubungan-hubungan struktural dalam hermeneutika al-Qur’an klasik. Dalam penafsiran tradisional, teks atau al-Qur’an berada di puncak dan pusat, sedangkan realitas tidak dibicarakan secara eksplisit. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tafsir tradisional terutama dari segi orientasi ini diperlukan membangun metode tafsir kontemporer yang dapat menjembatani kesenjangan antara teori tradisional dan realitas.
    Menurut Hassan Hanafi, pemahaman terhadap al-Qur’an adalah perbincangan mengenai teori penafsiran (nazhariyah al tafsir) yang mampu mengungkapkan kepentingan masyarakat, kebutuhan kaum muslimin dan isu-isu kontemporer. Sehingga diharapkan dapat mengatasi kekurangan yang terdapat dalam tafsir-tafsir tradisional yang tidak pernah melakukan perbincangan teoritis sebelumnya secara tuntas.
    Tafsir yang tidak memperbincangkan teoritas seperti itu menurut Hassan Hanafi seperti terlihat dalam tafsir tradisional yang mengakibatkan tidak otonom dan terjebak pada orientasi metodologis dari disiplin tradisional. Dalam materinya, tafsir tradisional menjadikan al-Qur’an lebih banyak dijadikan sumber justifikasi suatu keilmuan. Padahal, baginya, al-Qur’an bukan merupakan buku panduan bahasa, hukum, sejarah, tasawuf, teologi, filsafat, bahkan ilmu pengetahuan, panduan sosial politik atau panduan tentang metafora. Menurutnya al-Qur’an lebih baik dipandang dan berfungsi sebagai sebuah etos atau sumber motivasi bagi suatu tindakan.
    1. Prinsip-Prinsip dalam Analisis Teks.
    Berbeda dengan pandangan yang banyak berkembang di kalangan pemikir Muslim, Hassan Hanafi menganggap bahwa sebuah teks tidak mengandung makna objektif apa pun. Teks selalu merupakan praktik manusiawi semenjak penciptaan pertama hingga pembacaan terakhir. Pandangan ini didasarkan pada sifat kesejarahan dari teks. Seperti disinggung sebelumnya, Hassan Hanafi menganggap teks sebagai bagian dari praksis ideologi. Sebagai konsekwensinya, tidak ada pembacaan teks yang objektif, kecuali penafsiran itu sendiri. Apa yang terjadi dalam wilayah penafsiran tidak lain adalah pembacaan masa lalu dalam kacamata kekinian.
    Setiap penafsiran dengan sendirinya menjadi proyeksi masa kini ke dalam masa lalu, dan bukan sebaliknya. Sehingga, upaya penulusuran sebagai arkeologi (al hufriyat) dalam tafsir memperoleh makna awal selalu merupakan kegiatan yang sia-sia. Karena sekalipun apa yang diklaim sebagai makna awal dapat ditemukan, bukan serta-merta berarti menemukan makna teks yang sesungguhnya.
    Menurut Hassan Hanafi kebenaran dalam proses pemahaman tidak terletak pada korespondensi makna dengan realitas masa lalu sebagaimana diyakini epistimologi konvensional, akan tetapi dari korelasi makna dengan pengalaman hidup manusia. Penafsiran dapat dibenarkan sejauh ia fungsional dalam sejarah. Karena penafsiran tidak lain merupakan persaksian subyek di hadapan individu, masyarakat dan sejarah. Agaknya, hal ini merupakan jawaban atas pertanyaan dimanakah letak makna al-Qur’an apakah ada pada realitas di abad ketujuh atau pada Tuhan. Ketika membaca makna teks dalam sejarah, menurut Hassan Hanafi meskipun terdapat bukti-bukti sejarah tentang situasi yang melahirkan teks, namun, ia tetap bukan menjadi pendasaran bagi penafsiran makna masa kini. Hal ini karena sumber sejarah tetap tidak akan pernah memadai. Kalaupun sumber sejarah dijadikan sumber, yang terjadi adalah kontroversi sejarah ketimbang menafsirkan teks tersebut.
    Bagi Hassan Hanafi, penafsiran teks dalam situasi kontemporer sepenuhnya merupakan kegiatan produktif, penemuan makna-makna baru dari teks. Tidak mempersoalkan apakah sesuai atau tidak dengan makna aslinya, demikian juga apakah konteks situasionalnya sama atau berbeda. Hassan Hanafi menyebut istilah ini sebagai “proyeksi masa kini ke dalam masa lalu” atau “metode retroaktif”.
    Hassan Hanafi berpendapat bahwa membaca teks sebagaimana menulisnya, sama-sama merupakan tindakan ideologis. Setiap pembacaan merupakan keputusan dan rekonstruksi obyek bacaan dengan mengabaikan situasi awal di mana teks muncul dan teralienasi. Oleh karena itu, baik penulisan maupun pembacaan teks masing-masing merupakan “senjata ideologis”. Setiap kelompok membaca sekaligus memproyeksikan diri ke dalam teks, mencari kepentingannya dan menjadikan teks sebagai justifikasi untuk kepentingan berbagai tindakan sosial.
    Menurut Hassan Hanafi, sebagai kegiatan produktif, suatu bacaan atas teks berfungsi untuk menemukan dimensi-dimensi baru dalam teks sebelumnya bahkan dalam makna awalnya yang sama sekali belum ditemukan. Hal ini dapat saja terjadi karena pemahaman manusia senantiasa diperkaya oleh akumulasi pengetahuan yang memperkenalkan berbagai temuan yang tidak pernah disadari sebelumnya. Di samping itu, pemahaman manusia senantiasa dideterminasi oleh kesadarannya akan realitas sosial dan individual di mana ia hidup. Determinasi sosial kebudayaan seperti itulah yang menyajikan persepsi tertentu yang bisa saja berbeda dengan pemahaman penafsiran sebelumnya.
    Hassan Hanafi merinci tiga prasyarat yang tidak mungkin diabaikan dalam sutu pembacaan teks.
    1. Kesadaran yang dipengaruhi oleh sejarah (historically effected consciousness)
    Pijakan pada situasi tertentu yang dalam hermeneutika filosofis disebut sebagai prapaham atu kesadaran yang dipengaruhi oleh sejarah. Konsep ini menunjukkan bahwa setiap pemahaman manusia selalu berpijak dari suatu pemahaman sebelumnya mengenai apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi tujuan penafsiran teks. Dasar ini kemudian memberikan tawaran pemilihan makna tertentu bagi penafsir. Menurut Hassan Hanafi penafsiranlah yang menentukan pilihan makna bagi teks. Sebaliknya, seorang penafsir yang melakukan pembacaan terhadap teks yang tanpa dibekali dengan kepentingan tidak akan menemukan apa-apa. Menurutnya, makna adalah tujuan yang telah ditentukan sebelum pembacaan dilakukan.
    Hassan Hanafi menolak klaim objektivitas dalam pembacaan teks. Sebaliknya, pembacaan yang tidak dikaitkan dengan kepentingan itulah yang justru ideologis karena berprasangka bahwa telah mengatakan sesuatu dari teks yang objektif, padahal ia sama sekali tidak memberi tafsiran yang objektif kecuali refleksi dari tendensi tertentu. Prasyarat pemahaman yang pertama ini bukan semata-mata aturan teoritik yang mendahului penafsiran, bukan pula tendensi ideologis atau ide seseorang, akan tetapi prinsip umum dan objektif yang melampaui relativitas; menyerupai kepentingan umum dan kecenderungan pikiran.
    2. Berpihak kepada kepentingan umum.
    Bagi Hassan Hanafi, suatu interpretasi tidak berada dalam ruang kosong, tetapi bergerak dalam arus sejarah. Sementara, sejarah menurutnya, berkaitan dengan struktur-struktur sosial yang menggambarkan hubungan dialektis antara penguasa dengan yang dikuasai sehingga, masing-masing penguasa memiliki bentuk penafsirannya. Terhadap fenomena sosial tersebut, sebuah metode tafsir harus menjadi bagian dari gerakan sosial dan reformasi untuk tetap menjamin terwujudnya kepentingan umum. Penafsiran apa pun harus berpihak pada kepentingan yang bersifat publik dan menolak pembacaan lain yang berpusat tendensi ideologi dan teologis yang berpihak pada penguasa.
    3. Harus berpijak pada “bahasa relitas”.
    Menurut Hanafi, seorang penafsir tidak dapat membatasi diri pada teks dalam pengertian tertulis, tapi teks dalam pengertian “realitas”. Penafsiran menstransformasikan bahasa kepada masyarakat dan eksistensi untuk memperoleh relasi antara teks dengan realitas. Jadi, pada tahap ini penafsiran dapat disebut juga sebagai sebuah praksis karena realitaslah yang menafsirkan teks dan mendefinisikan tujuan-tujuannya.
    2. Nilai dan Kekuatan Teks
    Hassan Hanafi berpendapat bahwa Teks merupakan penulisan semangat zaman yang terungkap dalam pengalaman individu dan masyarakat pada banyak situasi. Jadi, menurut Hanafi setiap teks selalu merupakan refleksi realitas sosial tertentu. Teks bukan semata-mata sebagai gambaran internal penulisnya, melainkan, teks juga merupakan sarana pembentukan kesadaran akan realitas tertentu yang terefleksi dalam teks.
    Penulisan teks senantiasa tunduk pada faktor-faktor subjektif, persepsi tentang kenyataan, persepsi dalam membaca dan menentukan orientasi tertentu. Hassan Hanafi tidak ragu-ragu menyebut “teks sebagai praktik ideologi” (al nash ‘amal aydiyûlûjî) . Dalam hal ini, teks pun bersifat arbitrer karena merupakan pilihan penulisnya pada satu maksud dari keragaman fenomena yang ia hadapi untuk sesuatu di masa datang.
    Di samping itu, tujuan penulisan teks tidak lain bersifat etis dan ideologis. Disebut etis karena penulisan suatu momentum sejarah ke dalam teks berkaitan dengan keinginan memberi petunjuk tertulis kepada generasi mendatang. Sementara disebut sebagai bersifat ideologis, karena langsung atau tidak, teks merupakan sarana efektif untuk mewariskan kekuasaan.
    Menurut Hassan Hanafi sebagai medium kuasa, teks tidak hanya berfungsi sebagai preservasi makna, tetapi juga merefleksikan otoritas tertentu dalam kapasitasnya sebagai pemberi petunjuk, hukum, dan keputusan. Bahkan, dalam masyarakat tradisional di mana teks menjadi sumber pengetahuan, ia merupakan kekuasaan itu sendiri. Peran teks sebagai medium kuasa memang sentral dalam banyak teori teks. Dalam kritik wacana misalnya sering disinggung bahwa dalam masa transisi dari kebudayaan lisan kepada kebudayaan tulisan sering terjadi pertarungan ideologis dalam rangka membakukan pemikiran atau doktrin tertentu ke dalam memori umat. Dalam proses tersebut tekslah merupakan instrumen yang sangat efektif.
    Menurut penelaahan Hanafi bahwa dalam tradisi dari kebudayaan oral ke tulisan terjadi proses penyeragaman berbagai fenomena sosial ke dalam penafsiran tertentu. Hanafi menunjukkan contohnya dalam kasus penyeragaman bacaan al-Qur’an ke dalam dialek Quraisy sebagai proses interpretasi, kalau bukan intervensi manusia ke dalam teks. Hassan Hanafi bukannya keberatan dengan kejadian semacam di atas. Melainkan, dari sana ia ingin menunjukkan adanya sifat historisitas dari setiap teks. Di samping itu, secara tidak langsung merupakan pendasaran bagi pandangannya tentang interpretasi teks sebagai proses kreatif.
    Dalam masyarakat tradisional, fungsi instrumental teks lebih signifikan lagi. Sebab masyarakat menganggap teks sebagai argumen otoritatif. Ia menjadi semacam pengetahuan teoritis dan norma praktis bagi pola prilaku masyarakat. Pada intinya, teks merupakan pembentuk pandangan dunia (weltanschauung) dan standar prilaku massa. Wujud teks dalam masyarakat tradisional dapat dianggap sakral, seperti risalah kenabian, dan kitab suci. Teks dapat pula bersifat profan seperti bentuk pribahasa dan puji-pujian. Namun demikian, menurut Hassan Hanafi, perbedaan keduanya hanyalah pada derajat bukan pada jenis. Oleh sebab itu, secara teoritis, teks profan maupun sakral tunduk pada aturan yang sama dalam interpretasi teks.
    Dalam masyarakat tradisional teks demikian sentral sehingga teks kitab suci masih menjadi sumber pengetahuan dan norma prilaku. Demikian juga hermeneutika. Dalam masyarakat tradisional, hermeneutika dapat menggantinkan posisi epistimologi dalam masyarakat sekuler, sehingga norma prilaku terdapat dalam teks kitab suci dan bukan diperoleh dari alam dan nalar. Sebaliknya, dalam masyarakat sekuler alam dan nalarlah yang menjadi sumbernya.
    Hassan Hanafi lebih jauh melihat teks mengandung dinamika dan vitalitas di dalamnya. Akan tetapi, sebelum dilakukan pembacaan, maka ia hanya potensial dan status sifatnya. Membaca teks berarti menghidupkannya. Teks adalah forma yang perlu diberi subtansi melalui penafsiran manusia. Dalam kaitan dengan penafsiran, setiap teks berarti mengandung potensi dinamis yang memungkinkan dilakukannya penafsiran kreatif.
    Dalam kaitannya dengan hal ini, teks keagamaan dan teks sastra lebih tinggi lagi kadar probabilitas dan pilihan maknanya ketimbang teks-teks konseptual. Karena teks-teks semacam ini mengandung sifat “mistis” yang tercermin oleh banyaknya perumpamaan, alegori, dan kiasan. Teks-teks demikian, memberi imajinasi yang lebih besar pada pembentukan makna.
    Teks juga selalu bersifat ambigu; selalu tersedia pluralitas makna. Pembacaan teks bertugas memberi keputusan dengan mempertimbangkan konteks di mana ia berada. Karakter seperti ini mencerminkan bahwa teks selalu membutuhkan penafsiran yang dengannya makna menjadi jelas dan eksplisit. Dengan ungkapan lain, dia mengatakan bahwa “teks adalah bentuk tanpa isi, dan isi tanpa jasad, pembacaanlah yang memberinya subtansi dan bentuk.
    3. Perubahan Nilai Makna Suatu Teks.
    Teks dalam persepsi seorang penafsir tidak memiliki makna objektif. Membaca teks tidak dapat dilakukan dengan mencari makna aslinya atau menelusuri perkembangannya dalam sejrah karena keduanya telah kehilangan konteks. Dalam pengertian ini, teks tidak bersifat absolut, namun merupakan kumpulan relativitas yang ditafsirkan secara beragam pula oleh setiap masa. Dan karena setiap masa memiliki kecenderungannya masing-masing, maka penafsiran pun menjadi relatif.
    Membaca teks menurut Hassan Hanafi tidak dapat dibatasi pada makna harfiahnya (al tafsîr al harf) sebab hal ini hanya akan menjaga teks melainkan juga membunuh makna, merupakan dominasi kata atas makna, status quo atas transformasi, dan kebekuan atas dinamika. Dengan kata lain, penafsiran harus disesuaikan dengan kebutuhan tertentu.
    Penafsiran pada gilirannya, tidak memiliki parameter benar-salah, kecuali tafsir kepentingan (al tafsir al qashdy) itu sendiri. Bagi Hassan Hanafi, penafsiran dapat dibenarkan sejauh ia fungsional dalam sejarah. Penafsiran tidak lain merupakan persaksian subjek di hadapan individu, masyarakat dan sejarah. Prosedur penafsiran adalah makna muncul pertama kali dari penafsir yang tercermin dalam motivasi, kepentingan, dan imajinasi tertentu, baru setelah itu makna berkolerasi dengan teks. Baginya, setiap klaim kebenaran dalam penafsiran tidak dapat mengelak dari kenyataan ideologis seperti dalam prosedur tersebut. Dengan pandangan ini, sepintas makna objektif bukan berada dalam teks, tapi pada kesadaran manusia, sementra pada hakekatnya, makna subjektif yang beralih dari kesadaran ke dalam teks.
    Bagi Hassan Hanafi, perubahan makna teks merupakan penyebab adanya teks-teks yang bersifat relatif, mutasyabihat, sebab ia menunjukkan sisi histories pemahaman manusia. Sebaliknya teks-teks yang bersifat absolut, al muhkamat adalah prinsip bahwa yang ada adalah relativitas penafsiran. Absolutivitas makna dengan demikian bukanlah pada makna orisinal teks, tetapi terletak pada prinsip-prinsip umum, esensial, dan mendasar tentang pemahaman makna yang dalam hermeneutika filosofis modern disebut “dimensi universal hermeneutika”. Hanafi menjabarkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam empat unsur berikut ini.
    1. Kreativitas nalar, badahah al’aql.
    Pemahaman intensionalitas hubungan makna dan kepentingan. Hassan Hanafi berpendapat bahwa manusia dengan intensionalitas (kesadaran, al ‘aql al badihi) dapat mengungkapkan hubungan makna dan kepentingan. Kesadaran di sini tentu saja dalam pengertian fenomenologis yang terarah pada realitas dan bukannya kesadaran yang murni semata-mata.
    2. Pemahaman terhadap pengalaman manusia, tradisi.
    Situasi kemanusiaan yang berlangsung dari masa ke masa seperti nilai-nilai yang selalu diperjuangkan; revolusi ‘ubudiyah, ritual agama; melawan ketidakadilan; mempertahankan kebebasan dan seruan untuk musawah, kerukunan. Adanya pemahaman hermeneutika filosofis yang banyak mempengaruhi Hassan Hanafi, maka tradisi dengan sendirinya merupakan prasyarat pemahaman.
    3. Pemahaman logika bahasa
    Di samping intensionalitas dan tradisi, pada prinsipnya, pemahaman selalu berkaitan dengan bahasa teks. Teks hanya dapat dipahami sejauh merujuk pada bahasa yang di dalamnya bahasa dibentuk. Logika bahasa menyangkut logika semantis (manthiq al alfâzh) dan logika konteks kebahasaan (manthiq al siyâq).
    4. Konteks sosio-historis.
    Sebagai prasyarat terakhir, setiap penafsiran bagaimanapun tidak dapat mengabaikan adanya situasi awal (asbâb al nuzûl) yang menjadi latar belakang turunnya teks, meskipun ia tidak lagi memadai menjadi rujukan penafsiran. Pengakuan akan adanya situasi awal merefleksikan supremasi (uluwiyyah) realitas atas pemikiran dan teks. Artinya suatu penafsiran senantiasa historis di mana pemikiran (penafsiran) dalam bentuk apa pun tidak akan pernah sepi dari pijakan sejarahnya yang oleh Hassan Hanafi disebut “situasi batas” dan situasi etik”.

    Penutup
    Implikasi pendirian Hassan Hanafi tersebut di atas adalah tidak adanya nilai absolut dalam wilayah penafsiran. Setiap interpretasi mengalami relativitas sesuai dengan konteks penafsirannya. Dengan kata lain, yang absolut adalah relativitas itu sendiri. Kalaupun ada hal –hal yang dianggap absolut dan universal, sama sekali bukan berasal dari hasil dan proses penafsiran, akan tetapi menyangkut nilai-nilai tertentu yang menjadi prinsip penafsiran.
    Hassan Hanafi juga bermaksud menghindari segala macam klaim objektifitas. Menurutnya, semua penafsiran mengandung sisi ideologisnya sendiri-sendiri. Penafsiran dalam kapasitasnya sebagai instrumen kepentingan selalu merefleksikan pertarungan struktur sosial dalam masyarakat.
    Alih-alih membela objektivitas, Hassan Hanafi justru bermaksud mengeksplisitkan subjektivitas dan kepentingan yang menjadi tujuan hermeneutika dan penafsirannaya. Eksplisitas semacam ini menjadi penting karena berfungsi sebagai pendasaran dan tujuan hermeneutika al-Qur’an Hassan Hanafi. Dalam hermeneutika al-Qur’an, eksplisitas tersebut mengarahkan pembicaraan bukan pada benar salahnya sebuah penafsiran dalam pengertian yang hakiki, tetapi pada bagaimana sebuah argumen dibangun, disanggah atau didukung, berkaitan dengan bagaimana hubungan kebenaran dengan realitas. Hal ini berarti bahwa penafsiran sangat terkait dengan fungsionalitas teks dan bukannya pembicaraan teks yang melulu objektivistik.

    DAFTAR PUSTAKA
    Assyaukanie, Luthfi. “Oksidentalisme : Kajian Barat Setelah Kritik Orientalisme” dalam Jurnal Ulumul Quran Edisi Khusus 5 dan 6 vol. IV, 1994:120-125.
    Eriyanto, Analisis Wacana,Yogyakarta: LKis, 2001.
    Esposito, John L, 1995, The Oxford Encyclopedia of Modern Islamic World, Vol. III, New York: Oxford University Press.
    Esposito, John. L. dan John O. Voll, 2001, Makers of Contemporary Islam. New York: Oxford University Press.
    Grondin, Jean, 1994, Introduction to Philosophical Hermeneutics. Yale: Yale University.
    Haddad, Yvonne Yazbeck, 1991, The C,ontemporery Islamic Revival: A Critical Survey and Bibliography, New York: Greewood Press.
    Hanafi, Hassan, 1977, Religious Dialogue and Revolution: Essays an Judaism, Chistianity and Islam, Kairo: Anglo Egyption Bookshop.
    ___________, 1981, “Mâdzâ Ta’nî al Yasâr al Islâmî”, al Yasâr al Islâmî Kitâbât fî al Nahdlah al Islâmiyah, Kairo: [t. p].
    ___________, 1981, A1 Yasâr al Islâmî Kitâbât fî Nahdlah Islâmiyat, Kairo: Heliopolis.
    ___________1981, Dirâsât Islâmiyyah, cet. Ke-2, Kairo: Maktabah Anjilu.
    ___________, 1983, Qadlâyâ Mu’âsirah Fî Fikrinâ al Mu’âshir, vol. 1 dan 2, Beirut:Dar al Tanwir.
    ___________, 1986, “The Preparation of Societies For Life in Peace an Islamic Perspective” Makalah dalam seminar di Osaka.
    ___________,1988, “A1 Ushûliyyah al Islamiyyah” dalam Al Din wa al Tsaurah fî Mishr 1952-1981, Vol. 6, Kairo: Maktabah Madbuli.
    ___________,1988, Al Din wa al Tsaurah fî Mishr 1952-1981 Vol.1-7, Kairo: Maktabah Madbuli.
    ___________,1988, Dirâsât Falsafiyyah, Kairo: Anjilu al Mishriyyah.
    ___________,1988, Min al Aqîdah ilâ al Tsaurah, Kairo: Maktabah Madbuli.
    ___________,1989, ‘al Salafiyah wa Ilmiyah fi Fikrinift al Mua’shir’, dalam Majalah Al Azminah Volume III,.
    ___________,1992, Al Turats wa al Tajdid, Ccet. Ke-4, Beirut: Muassasah al Jam’iyyah li al Dirasat wa al Nasyr wa al tauzi’.
    ___________,1992, Muqaddimah fî ‘Ilm al Istighrab Mauqifunâ Min Turâts al Gharbî,. Kairo:Dar al Fannani.
    ___________,1998, Humûm al Fikr wa al Wathan al Turâts wa al ‘Ashr,cet. Ke-2, Kairo: Dâr Qubâ li al Thaba’ah wa ala Nasyr li al Tauzi’.
    ___________, 2000, Islam in The Modern World: Religion, Ideology and Development Vol.I Kairo: Dar Kbaa.
    ___________, 2000, Islam in The Modern World: Tradition, Revolution and Culture. Vol. II. Kairo: Dar Kbaa,.
    Saenong, Ilham B., 2002, Hermeneutika Pembebasan, Bandung: Teraju.
    Shimogaki, Kazuo, 1988, Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left DR. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, Niigata: Chyutto Kenkyuzo.
    ___________, 1993, ” Pemikiran Hassan Hanafi dan munculnya al Yasar al Islami dalam Jurnal Islamika No. 1, Bandung : Mizan dan MISSI,
    Wahid, Abdurrahman, 1994 “Hassan Hanafi dan Eksperimentasinya”, dalam Kazuo Shimogaki, Kiri Islam, edisi Indonesia, Jogjakarta: LKis, , cet. Ke-2.
    Zaid, Nashr Hamid Abu, 1994, Naqd al Khitâb al Dînî, Kairo: Sînâ al Nasyr, cet. Ke-2.
    Zayd, Nashr Hamid Abu, 1996, Al Ittijâh al ‘Aql fî al Tafsîr Beirut: Markaz al Tsaqafi al ‘Arabî.
    Zayd, Nashr Hamid Abu, 1997. Imam Syafi’i : -Moderatisme, Ekletisisme, Arabisme, terj. Khoirun Nahdhiyyin, Yogyakarta: LKIS.

    No Comments
  • Welcome to STAIN Staff Website. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

    1 Comment